Saturday, April 21, 2018

7 21 4 Keluarga

*Suamiku Si Ciak*
Sepulang dari Tasik, ada seorang bapak bercerita. Tanpa ditanya, tanpa diminta, malahan Abah sudah ngantuk berat. Ini ceritanya...

Saya punya anak perempuan lulusan S1 dari Bandung. Ia pintar, baik dan dapet beasiswa.

Ia punya pacar tetangga. Namun setelah setahun menjalin kasih, prianya nikah dengan orang lain.

Anak saya sedih cukup lama. Tapi saya gak terlalu sedih karena dari awal kurang setuju. Pria itu manja. Saat dibelikan sepeda motor oleh orangtuanya, ia malah minta mobil. Tapi karena anak saya cinta, ya gak berani ngelarang.

Cukup lama anakku tak punya pacar. Calon menantu baru tak kunjung datang.

(Sampai sini, Abah agak gak enak hati. Biasanya yang cerita gitu suka nawarin jadi mantu, apalagi saat itu sudah maghrib. Jadi, ia tak melihat Abah sudah beruban. Hahaha)

Akhirnya, saya tawarkan seorang pemuda. Ia miskin, tukang nyabit (Sunda: tukang ngarit), gak ganteng, dan lulusan SD. Yang menarik hati saya, ia baik, rajin dan suka ibadah.

Sebenarnya dulu mau saya sekolahkan ke SMP, tapi orangtua angkat anak yatim piatu itu tidak mengizinkan karena tak ada yang ngurus dombanya.

Anakku mau. Pernikahan berlangsung. Pengantin pria membawa ayam jago padahal di daerah saya lazimnya membawa domba.

Sejak itulah, suka ada cibiran bahwa menantuku itu "Si Ciak".
(Di Sunda, "ciak" itu analogi untuk suara ayam).

Sejak pernikahan itu juga, anak saya tak mau keluar rumah bareng suaminya karena minder.

"Sabar saja, ya Nak! Semoga nanti ada jalan," kata Si Bapak menenangkan mantunya.

"Gak apa-apa, Pak. Saya segini adanya. Bapak sudah tahu sejak dulu," kata mantunya tersenyum.

Bertahun-tahun lamanya, suami-istri itu belum juga mau berjalan bersama di luar rumah.

Suatu hari, ada yang nawarin tanah berikut kebun kayu yang masih kecil-kecil. Harganya 10 juta.

Saya minta anak dan mantu membelinya, tapi mereka hanya punya uang 6 juta. "Nih, 4 juta dari ayah," kata Si Bapak yang ngaku jualan di pasar.

Setelah beberapa tahun, kayu itu siap.panen. Ada yang nawar taksiran 60 juta (Sunda: dikemplang).

"Nak, jangan 'dikemplang' ya!"
"Saya ikut ayah saja," kata mantunya.

Si Bapak nyari calon pembeli ke dekat Parakanmuncang Sumedang. Eh malah ingin beli 'kemplang' juga Rp 80 juta.

"Nak, kita batalkan saja ya! Ayah inginnya kamu belajar bisnis. Jadi, harus tahu berapa untung sebenarnya dari kebun ini. Rugi juga gak apa-apa. Apalagi jual/beli "kemplang" dilarang agama, bukan?"
"Iya, Pak."

"Sekarang kamu saja yang tebang sendiri dan buat kayu siap jual ya...!"
"Saya mau aja kan sudah biasa bantu-bantu orang lain, tapi tak punya mesinnya.

"Biar ayah beliin saja", kata Si Bapak memantapkan mantunya.

Setelah selesai, ternyata kayu itu bernilai jual Rp 160 juta.

Kini, Si Ciak punya toko kayu (material) dan kebun yang suka ngirim produknya ke Tasik, Bandung dan Jakarta pakai mobil sendiri.

"Putriku kini hidup bahagia dan mereka tampak asyik berbagi bersama masyarakat sekitarnya di Limbangan, Garut. Alhamdulillah...." Si Bapak mengakhiri cerita dengan tersenyum memandang Abah.

"Maaf Mas, saya jadi cerita panjang gini." Mata Si Bapak berkaca-kaca tampak terharu teringat putrinya.

#komtas

Wah panjaaaaaang....hehehehe
Bitcoin Offers:
Free Bitcoin, Double Bitcoin, Bitcoin Investment, Bitcoin Trading



"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."

No comments: